Malam semakin larut. Setelah perbincangan panjang di taman, Arafah akhirnya kembali ke kamar untuk beristirahat. Tidak sekali dua kali Arafah mencoba memejamkan mata, tetapi debaran di dadanya terlalu kencang. Esok hari, dia akan menikah. Dia akan menjadi istri Bima. Perasaan itu terasa begitu nyata sekaligus seperti mimpi. Namun, sebelum subuh menjelang, pintu kamarnya diketuk pelan. Arafah membuka matanya, sedikit terkejut. Ia bangun dan berjalan mendekati pintu. "Arafah, bangun sebentar," suara Sonya terdengar dari luar. "Ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu." Arafah mengerjapkan mata, lalu membuka pintu. Sonya berdiri di sana, membawa sesuatu di tangan—sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus kain sederhana. "Ada apa, Suster Sonya?" Arafah bertanya dengan suara serak karena