Fabian segera menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya, menghindari pukulan Zidan yang bertubi-tubi dengan gerakan lincah. “Berhenti, Zidan! Ada banyak cara menyelesaikan masalah selain dengan kekerasan!” teriak Fabian, mencoba menahan serangan bertubi-tubi. Pikirannya kalut, dia tidak menyangka Zidan akan muncul dan langsung melancarkan serangan seperti ini. Zidan tidak menggubris. Amarah sudah menguasai dirinya. Zidan melayangkan pukulan ketiga, mengincar rahang Fabian. Pukulan itu meleset. Fabian menahan tangan Zidan yang hendak memukulnya lagi, lalu mendorong pria itu menjauh. Zidan terhuyung ke belakang. “Si-alan!! Badjingan!” teriak Zidan, suaranya parau menahan emosi. “Anda pikir saya tidak tahu Anda datang ke sini untuk menemui Kanika?! Apa lagi yang Anda harapkan, ha

