“Maafkan aku, Zidan.” Kanika menunduk dalam, tatapannya tersembunyi di balik helai rambut yang jatuh. Ia kembali ke dalam dirinya, merasakan gelombang rasa bersalah yang tak henti-hentinya menerpa. Setelah Zidan menenangkannya beberapa waktu lalu, kini ia mencoba untuk jujur, walau terasa berat. “It's okay, ini hanya sebuah kecelakaan, dan memang harusnya kamu bilang dari awal.” Suara Zidan terdengar lembut, tapi Kanika bisa menangkap ada getaran lain di sana. “Awalnya memang mau bilang, tapi aku tidak punya keberanian.” Kanika mengakui. Ia terlalu takut. Takut Zidan akan meninggalkannya, takut keluarganya kecewa, takut semua rencananya hancur. Zidan menghela napas. Ia menatap Kanika, matanya memancarkan kelelahan yang dalam. “Masuklah, Kanika. Sudah malam,” ujarnya, seraya mendoron

