Tak lagi memiliki harapan, Fabian memutuskan untuk pulang. Namun, di dalam hatinya, dia menitipkan harapan agar Kanika akan menjaga anak itu. Mengingat saat ini dirinya tak bisa bertanggung jawab sesuai dengan keinginannya, Fabian mau tidak mau hanya bisa pasrah. Dengan mata yang mengembun, dia menatap jauh ke depan, penuh harapan. Fakta bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah membuat hati Fabian menghangat, jujur saja. Sayangnya, keadaan harus serumit ini. Dia tak pernah menyangka bahwa niat awalnya yang hanya sekadar melampiaskan kemarahan pasca ditinggal Sadira, ternyata adalah awal dari luka yang sesungguhnya. Setibanya di rumah, yang Fabian lakukan hanyalah merenung. Dia duduk diam di sofa, menatap kosong ke depan, berharap setitik cahaya bernama harapan itu masi

