Fabian melesat keluar ruang tamu seperti anak panah yang dilepas dari busurnya. Langkah kakinya yang panjang dan cepat menggema di lantai marmer, berpacu dengan suara amarah papanya yang menggelegar di belakangnya. "Kembali kau! Dasar anak se-tan! Papa tidak pernah mengajarkanmu melakukan hal yang dilarang, Fabian!!" Tanpa peduli apapun di depannya, Fabian terus berlari menembus lorong, melewati tangga utama, dan langsung menuju pintu samping yang mengarah ke taman. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena ia habis-habisan lari, tetapi karena ketakutan. Ia sudah babak belur akibat pukulan Zayyan, dan ia tahu, kemarahan papanya belum mereda. Di luar, udara sore yang menyejukkan menyambutnya, kontras dengan hawa panas yang membakar wajah Zayyan. Fabian mengira ia sudah aman. Ia be

