Langkah Kanika terasa jauh lebih ringan saat menuruni anak tangga, napasnya perlahan mulai teratur setelah ketegangan tadi. Kemeja baru dari Fabian yang dia kenakan terasa lembut di kulit, menyisakan aroma khas yang menenangkan. Dia bisa mendengar gumaman percakapan dari lantai bawah, tapi sepertinya sudah tak ada lagi. Tanpa Kanika tahu, Lintang memang sudah pergi setelah mendapatkan jatah uang jajan dari sang kakak. Sebagian dari dirinya masih merasa malu karena sudah menghajar calon adik ipar, tetapi di sisi lain, dia tak bisa menyalahkan dirinya. Siapa yang tidak panik jika ada orang asing tiba-tiba masuk dan langsung mengarah ke kamar? Terlebih lagi membawa senjata persis tukang ayam di pasar saja. Sesampainya di lantai bawah, Kanika melihat Fabian sudah duduk sendiri di sofa.

