Sadar akan reaksi Fabian yang berbeda—bukan marah seperti yang biasa ia tunjukkan, tetapi sebuah kekecewaan yang menusuk—Kanika mendadak ciut. Sungguh Kania tak mengerti kenapa pria itu sampai terlihat begitu terluka hanya karena ia menyebut dirinya murahan. Alih-alih membantah, Fabian hanya menatapnya, seolah ada seribu kata yang tertahan di tenggorokannya. “Kanika ....” Fabian akhirnya berucap, suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar, membuat Kanika terhenyak dari lamunannya. “Hah?” Kanika mengerjap pelan, kepalanya terasa kosong. “Aku tanya, tadi kamu bilang apa? Hah? Coba ulangi.” Fabian mendesak, suaranya kini kembali pada nada serius, tetapi tanpa kemarahan. Dia ingin Kanika mengulanginya, seolah ingin memastikan telinganya tidak salah dengar. Takut membuat Fabian semakin

