BAB 43 - Melamar (Lagi)

1322 Kata

​“Duh, malunya!” Kanika menggerutu, bersembunyi di balik tumpukan paper bag yang kini tergeletak di lantai kamar. Dia merutuki kebodohan dirinya sendiri yang tadi sempat bertanya lantaran penasaran. Bagaimana bisa Fabian tahu ukuran bra-nya, sementara dia tidak memberitahukan apa-apa dan Fabian juga tidak bertanya. ​Sungguh, Kanika lupa. Fabian tidak hanya sekadar pernah menyentuh bra-nya, tetapi juga isi dalam bra-nya. Demi Tuhan, Kanika merasa malu sekali. Bahkan saking malunya, dia sampai mengurung diri. Diam di tempat tanpa melakukan apa pun, seolah-olah bersembunyi dari kenyataan yang baru saja terjadi. ​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah ketukan di pintu mengejutkannya. ​Tok … tok … tok! ​Ketukan itu terdengar berulang-ulang, memaksa Kanika untuk beranjak d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN