Apaan sih ini? Aku melihat kearah tanganku yang tadi sempat memukul Papa. Sejak nikah, aku tak seperti dulu. Tapi, untuk sesaat tadi, kek ada orang lain yang mengambil alih tubuhku. Nyesal? Iya lah. Sejelek-jeleknya Papa, dia kan calon mertuaku juga. Tapi nasi udah jadi bubur, mau gimana lagi? Nggak mungkin kan aku bisa muter balik waktu? Seandainya saja ada Doraemon disini, gumamku dalam hati. Putri dan Mama masih menangis terisak-isak sambil memegangi kami. Papa juga seolah masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku aja yang memulai baku tumbu antara kami masih sedikit shock dan nggak percaya, apalagi dia ya kan? "Ambilin obat di dalam Ma," kata Papa pelan memecah keheningan diantara kami. Mama melihat ke arah suaminya dengan pandangan ragu. "Sudah. Ambilkan sana!" ka