Suasana di luar apartemen Yasmin tampak tenang, namun di dalam, jantung wanita itu berdetak seirama dengan detak jarum jam dinding yang terasa seperti bom waktu. Yasmin duduk di tepi ranjang, menatap Aksa yang sedang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Ia sudah mengemasi sebuah tas kecil—hanya berisi dokumen penting, pakaian ganti Aksa, dan sedikit uang tunai. Ia berencana pergi ke hotel kecil di pinggiran kota saat subuh nanti, sebelum Kaizan sempat bereaksi atas laporan supirnya. Namun, Yasmin meremehkan satu hal. Ketidaksabaran Kaizan Saverio. Brak! Suara pintu depan yang digedor dengan keras membuat Yasmin tersentak. Itu bukan ketukan sopan. Itu adalah gedoran penuh otoritas yang menuntut untuk dibuka "Yasmin! Buka pintunya!" Suara berat Kaizan menggema dari balik pin

