“Nggak ngomong apa-apa, lo salah denger.” Suara Laura terdengar datar, tapi getaran gugupnya tidak sepenuhnya berhasil ia sembunyikan. Regantara menatapnya lama. Tatapan yang terasa seperti jari dingin yang menyusuri kulit. “Enggak. Gue belum congek.” Ia meraih tangan Laura, membingkai jemarinya seolah itu benda rapuh. Usapannya lembut, pelan, tapi cukup untuk membuat jantung Laura berdetak dua kali lebih cepat. “Lo mulai jatuh cinta sama gue?” Refleks, Laura menepis tangannya. Napasnya tertahan. “Nggak usah ngaco!” Namun, warna tipis yang merayap di pipinya mengkhianati ketegasan suaranya. Regantara tertawa rendah. Suara yang lebih mirip desahan nakal ketimbang tawa biasa. “Masih jaim aja. Ngaku aja, Ra. Kalau lo ngaku, gue jadiin lo ratu.” Laura mendengus. Sinarnya tajam, tapi

