Bab 20. Pengakuan Laura

1118 Words

Namun Laura sudah tak mendengar apa pun. Dunia seolah mengecil menjadi satu titik—titik di mana tubuh Letta terbaring, dikelilingi genangan cairan merah yang begitu pekat. Laura berlutut di samping Letta, napasnya memburu. Luka di perut Letta seperti sebuah jawaban pahit yang tak pernah ingin ia dengar. Siapa yang sanggup melakukan ini? Aris? Tapi bukankah pria itu sempat tak sadarkan diri? Jika bukan Aris… berarti ada tangan lain yang bekerja. Regantara mengejar, lalu berhenti dengan napas tercekat. “Ingat, Ra… lo hamil. Jangan lari-larian begini,” ucapnya, nada khawatir mematahkan ketegasan biasanya. Laura tidak menoleh. “Telepon ambulans. Sekarang.” Suaranya serak. campuran antara takut, marah, dan rasa bersalah yang menghimpit. Regantara merogoh saku jaket Laura, mengambil pons

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD