“Kita ngobrol di luar aja,” kata Laura. Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang untuk situasi seburuk ini. Entah karena ia berharap Regantara punya cukup waktu untuk menghilang. Atau karena ia sama sekali tak tahu bahwa papinya telah menanam mata-mata tak kasatmata di kamarnya sendiri. Aris tertawa kecil. Bukan tawa yang hangat, melainkan lengkungan bibir yang tajam, seperti pisau yang baru diasah. Matanya menyapu ruangan, sengaja, penuh perhitungan. “Kenapa?” tanyanya ringan, nyaris santai. “Kamu mau papimu lihat gimana caraku memperlakukan kamu?” Ia berhenti sejenak, lalu mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar, seolah benar-benar memastikan sesuatu. “Tenang aja. Di sini nggak ada CCTV,” lanjutnya, suaranya menurun, menusuk. “Atau… kamu takut?” Kalimat itu jatuh seperti ta

