Selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang keluarga untuk berbincang sambil menikmati teh kamomile hangat. Televisi di depan menyala dengan volume kecil, namun tak seorang pun benar-benar memperhatikannya. “Mami dengar dari Praja, kamu bersedia ikut beberapa pelatihan sebelum tampil di acara-acara publik dengannya. Apa itu benar, Ning?” Pertanyaan Nyonya Ayu membuat Zalima mengalihkan pandangan dari gelas yang digenggamnya. Dia tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Iya, Mi. Sebagai istri baru Kak Praja, saya sadar banyak mata yang memperhatikan. Sikap dan perilaku saya akan menjadi penilaian mereka. Kalau tidak sesuai harapan, pasti akan timbul perbandingan dengan mantan istrinya. Itu bisa berdampak, bukan hanya pada Kak Praja, tapi juga keluarga Dirgantara.” Zalima melanjutkan,

