Udara di kamar mandi masih dipenuhi uap air panas ketika Seraphina menutup keran. Air mengalir dari kulitnya, menghapus sisa sabun, tapi dingin yang bersarang di hatinya tak ikut luntur. Setiap gerakan terasa berat, bukan hanya karena nyeri yang menusuk di bagian tubuh tertentu, tapi juga karena beban pikiran yang terus membelit. Tangannya bergetar saat meraih handuk di gantungan. Ia membungkus tubuhnya rapat-rapat, lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Mata sembab yang memerah, wajah pucat, bibir kering, semuanya seolah menelanjangi kelemahan yang mati-matian ingin ia sembunyikan. "Jangan terlihat lemah…" batinnya memaksa, meski ia tahu topeng itu rapuh dan mudah pecah. Suara ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak. “Nona Seraphina?” Suara itu milik salah satu asisten rumah ta

