Malam itu, suasana rumah sudah lengang ketika pintu depan terbuka. Damien masuk dengan langkah sedikit goyah, aroma alkohol menempel kuat pada tubuhnya. Matanya redup, tapi gerakannya masih penuh kendali yang membuat siapapun enggan mendekat. Tanpa menuju kamarnya sendiri, ia langsung menaiki tangga menuju kamar Seraphina. Di dalam kamar, Seraphina terlelap, sampai suara ketukan keras disertai benturan membuatnya tersentak bangun. “Seraphina,” suara Damien terdengar serak, berat, dan tertekan. Pintu terkunci. Damien memukulnya lagi, kali ini lebih keras. Seraphina bangkit dan berjalan perlahan. Ia membuka kunci, dan begitu pintu terbuka, sosok Damien sudah berdiri di sana. “Dokter Damien… ada apa?” tanyanya dengan suara bergetar. Damien berdiri di depan Seraphina, tatapannya turun-na

