Damien melangkah pelan di koridor sayap timur rumah keluarga Vale. Langkah sepatunya nyaris tak terdengar di lantai marmer yang dingin. Ruangan itu berada di ujung, dijaga oleh dua pria berjas hitam yang hanya mengangguk kaku saat Damien lewat. Ia mendorong pintu perlahan. Aroma antiseptik samar bercampur wangi lembut bunga lili dari vas di dekat jendela. Cahaya sore menembus tirai tipis, jatuh di ranjang besar di tengah ruangan. Celine terbaring di sana, dikelilingi peralatan medis yang diatur rapi. Selang infus menusuk kulit pucatnya, monitor jantung berdetak pelan namun stabil. Damien berhenti di ambang pintu, menatap wajah yang nyaris tak berubah meski lima tahun telah berlalu. Perlahan ia mendekat dan duduk di kursi di samping ranjang. “Celine…” suaranya serak, hampir ragu apakah

