Chapter: 10

1382 Words

Di lantai bawah, Damien berdiri di sisi ruang makan terbuka, tak jauh dari balkon kecil yang menghadap taman belakang. Ia mengenakan kemeja putih, masih setengah terbuka di bagian atas, memperlihatkan sebagian d**a dan garis rahangnya yang tegas. Kancing manset sebelah kirinya belum dikaitkan. Penampilannya nyaris santai, tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, diam, tegak, tak sepenuhnya santai, yang membuat udara di sekitarnya tetap tegang. Ia mengangkat cangkir porselen hitamnya, menyesap pelan kopi tanpa gula yang sudah mulai mendingin. Rasa pahitnya memenuhi mulut, tapi Damien tak mengernyit. Seolah itu adalah satu-satunya rasa yang ia izinkan bertahan di pagi hari. Langkah kaki pelayan terdengar dari belakang, ringan tapi penuh kehati-hatian. Damien tak menoleh, hanya sedikit memir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD