Lauren masih berdiri di ambang pintu, tangan kanannya menggenggam kenop yang dingin, seolah berpegangan pada sisa kendali terakhir yang masih ia miliki. Cahaya temaram dari dalam ruangan memantul di wajahnya, setengah diterangi, setengah tersembunyi dalam bayangan, menciptakan siluet tajam dari sosok seorang wanita yang telah terlalu lama bertahan di permainan kotor para pria seperti Damien Thorne. Wajahnya keras, tatapannya datar, tapi sorot matanya menyiratkan tekad. Ia bukan wanita yang mudah ditundukkan, dan ia tahu apa yang dipertaruhkan malam ini. “Aku serius, Tuan,” ucapnya tanpa ragu, suaranya rendah namun tajam seperti silet. “Kau tidak boleh keluar dari batas. Kita punya kesepakatan. Dan jaringan tak akan segan memotong siapa pun yang menyimpang.” Damien tidak segera merespons

