Chapter: 11

1056 Words

Langkah kaki Damien terdengar tenang saat menuruni anak tangga menuju ruang kerja pribadinya. Di ruangan yang dingin dan steril itu, lampu baca kecil menyala redup, hanya menerangi sebagian meja kayu gelap yang kini dipenuhi tumpukan map tua dan berkas arsip. Ia mencari dengan telaten. Matanya tajam, menyapu deretan nama-nama dalam dokumen yang sudah menguning. Tangannya berhenti ketika satu nama muncul di lembar catatan operasi tak resmi. “Rizal Hartana.” Damien menarik napas pelan. Jadi benar. Nama yang Seraphina sebutkan waktu itu adalah nama terakhir yang tercantum dalam operasinya. Ayah Seraphina. Damien bersandar sejenak di kursinya. Kenangan malam itu kembali menyergap seperti hantu yang menolak lenyap. Ia masih ingat bagaimana Ezra, dengan tubuh terluka dan napas tersengal, m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD