Seraphina membeku. Ruangan itu tampak gelap dari sudut tempatnya berdiri. Saat ia hampir memutuskan untuk kembali ke dapur, tiba-tiba sebuah suara terdengar. Suara rendah, bergelombang dengan napas berat. Seperti lenguhan perempuan. Matanya membelalak. Tanpa sadar, tangannya mendorong pintu itu lebih lebar. Dan di sana, dalam remang cahaya yang cukup untuk memperlihatkan dosa, Seraphina melihatnya. Lauren duduk di atas pangkuan Damien, tubuhnya telanjang. Rambutnya tergerai, bibirnya terbuka menahan napas dan hasrat. Dan matanya, mata itu menatap langsung ke arah Seraphina. Tidak terkejut ataupun malu. Justru tampak seperti disengaja. Dengan gerakan penuh gairah dan kesombongan, Lauren menggeliat lebih dalam ke pangkuan Damien yang terlihat pasrah dan mabuk. “Te…rlalu dalam, T-tuan

