Damien menggerakkan tangannya, seakan hendak mengeluarkan sesuatu dari saku, tapi urung. Ia baru berpaling setelah beberapa detik yang terasa terlalu lama. Tatapannya lurus, tenang, tapi ada lapisan dingin yang membuat Seraphina sulit membaca isi pikirannya. “Kita bicarakan nanti,” katanya pelan. Nada itu bukan penolakan, tapi juga tidak memberi ruang untuk menganggapnya persetujuan. Seraphina menelan ludah, mencoba tersenyum tipis walau dadanya terasa berat. “Baik,” jawabnya singkat. Ia kembali membuka bukunya, pura-pura membaca. Namun matanya tidak bergerak mengikuti baris kata. Telinganya tetap menangkap suara langkah Damien yang perlahan menjauh. Di kepalanya, pikirannya berputar. ‘‘Nanti’ itu artinya apa? Dia akan mengizinkan, atau mencari alasan untuk menahanku?" *** Seraphina

