Asia menggigit roti selai cokelat miliknya sambil mengamati ponselnya. Saat ini ia sedang menimbang-nimbang untuk mengirim pesan kepada Shankara. Namun, ia setiap kali tangannya hendak mengetikkan sesuatu, tiba-tiba saja ia merasa gengsi dan malu. “Aduh, kenapa gue pakai takut dan deg-degan segala sih, mau kirim pesan ke Pak Shan?” gerutu Asia seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi dengan posisi duduk yang melorot dari kursi meja makan. Lalu, Asia segera menegakkan badannya sambil kembali fokus ke layar ponselnya. “Basa-basi aja dulu tanyain soal Mamanya yang pagi ini pulang ke Amerika,” gumam Asia lagi sambil menganggukkan kepala. Belum juga Asia sempat mengirim pesan kepada Shankara, tiba-tiba saja ponselnya bergetar dengan nama Shankara terpampang di layar ponselnya. Karena

