Reza berhenti menciumku. Mungkin karena aku tidak membalasnya sama sekali. Sempat kaget sih dengan apa yang dia lakukan. Tapi selebihnya aku kesal dan marah. Bisa-bisanya sengaja menghalangiku seperti ini. "Kenapa diam saja?" tanyanya dengan suara parau. "Untuk apa? Anda pasti sudah tahu akhirnya kan?" jawabku masih dengan muka jutek. "Maaf," lirihnya. Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi. Aku gak bisa dibuat kentang terus-terusan. Gak enak, njir! "Sesil." "Hm." "Kita harus bicara." "Bukankah sejak tadi juga kita sedang bicara?" "Maksudku, tentang kita." Aku menatapnya. "Bagus. Memang seharusnya semua ini dibicarakan." "Ayo, duduk dulu!" Reza merangkul bahuku. Kami berjalan dan duduk di ranjang milik Reza. "Baik. Sekarang kita sudah duduk. Anda mau hubungan kita seperti apa?"

