Keesokan harinya “Huek..” “Huek..” “Astaga, mual sekali perutku pagi ini.” gumam Callista sembari membasuh mulutnya dengan air. Callista menatap wajahnya dari pantulan kaca yang ada di hadapannya. Ia tidak bisa terus seperti ini. Terus menyembunyikan kandungannya dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya “Huhh..” Callista menghela nafas kasar Callista menunduk lalu mengelus perutnya yang masih rata. Entahlah, ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ia tidak menginginkan bayinya, tapi di satu sisi ia tidak ingin membunuh bayinya. Mau bagaimanapun dia adalah darah dagingnya. “Apa aku ceritakan hal ini pada Livia?” “Enggak! Jangan, Callista!” ucapnya sembari menggelengkan kepala berulang kali Apa yang akan Livia katakan jik

