Waktu bergulir seperti aliran air pegunungan yang tenang namun pasti di desa tanpa nama itu. Kabut pagi yang dingin tidak lagi terasa asing bagi Nara, ia telah belajar bersahabat dengan desau angin lereng gunung dan aroma tanah basah yang setiap hari menyambutnya. Kini, kandungan Nara telah resmi memasuki bulan keenam. Perutnya yang dulu hanya berupa tonjolan halus, sekarang telah membesar dengan sempurna, membentuk siluet bulat yang anggun di balik daster kain murah yang selalu ia kenakan. Seiring dengan fisiknya yang kian berubah, kehadiran "Kirana sang janda muda" telah menempati ruang tersendiri di hati para penduduk dusun. Nara, dengan segala kelembutan tutur kata dan ketulusan sikapnya, dengan cepat menjadi sosok yang sangat disayangi. "Nduk Kirana, ini loh, Mbok bawakan ubi bakar

