Bab 21. penyesalan

1043 Words

“Hal penting apa?” tanpa basa-basi, Alifa langsung bertanya saat keduanya bertemu. Raut Alifa masak, berbanding terbalik dengan Adrian yang justru terlihat sumringah. Lelaki itu tersenyum manis ke arahnya. Alifa hanya membuang muka saja. “Sudah pesan makanan?” tanya Adian. Membolak-balikkan buku menu. “Aku lapar, belum makan dari siang.” Alifa tidak menjawab, menganggap itu bukan urusannya. Ia hanya memesan kopi hitam dan sepotong kue, tidak tertarik dengan meni berat seperti yang dipesan Adrian. “Cepat ka,,,” “Tunggu, aku makan dulu. Aku bisa pingsan karena lapar.” Adrian mengangkat satu tangannya. Alifa hanya menghela, lantas membiarkan lelaki itu menikmati makanannya sebelum mengutarakan niat dan tujuannya bertemu. Menunggu Adrian makan merupakan hal yang sangat membosankan,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD