Luna menatap kesal ke layar handphone-nya. “Alaric WA lagi?” tanya Fanya. “Iya.” “Ya udah balas aja dulu.” “Malas.” Luna meletakkan handphone-nya di meja setelah membaca pesan Alaric. Hanya membacanya tapi tidak membalasnya. Tidak lama kemudian handphone-nya berdering. Nama Alaric muncul di layar. Luna mendecak kesal. Panggilan Alaric ditolaknya. Sebentar kemudian ia menonaktifkan sinyal handphone-nya. Fanya yang melihatnya jadi heran. “Entar suamimu marah lho. Emang lo pergi nggak izin dulu sama dia?” “Biarian aja, mendingan kita makan.” Luna dan Fanya menyambut pelayan yang datang membawakan makanan pesanan mereka. Fanya lalu makan dengan lahap, tapi Luna tidak demikian. Rasa mual di perutnya masih terasa dan nafsu makannya masih belum kembali. Ia hanya meminum dua gelas jus yang

