Luna memutar anak kunci. Pintu terbuka. Luna melangkahkan kaki memasuki rumah. Baru saja ia memegang gagang pintu kamar, suara Alaric terdengar. “Mungkin lain kali gue harus ganti kunci pintu supaya lo nggak pulang malam seenaknya.” Luna memutar badannya, ditatapnya Alaric dengan wajah datar. “Keberatan aku pulang malam?” ucap Luna dengan nada menantang. Belum pernah ia bersikap seperti ini kepada Alaric sebelumnya. Alaric harus tahu, bukan hanya dirinya yang bisa keluar masuk rumah ini seenaknya. “Tentu saja gue keberatan. Perempuan macam apa yang pulang selarut ini?” sahut Alaric dengan wajah gusar. Sekarang memang sudah pukul sebelas malam dan selama mereka menikah, Luna belum pernah pulang selarut ini. Tadi ia lupa waktu karena hanya ingin melupakan kesedihannya dengan hangout ber

