Arista menyetir mobilnya dengan gelisah. Tatapannya tak fokus, mulutnya sibuk menggigiti kukunya hingga tanpa sadar membuat kuku jempolnya patah. Mobil berwarna biru itu berbelok cepat, memasuki halaman sebuah apartemen mewah. Wanita di dalamnya keluar tergesa setelah mobil terparkir sembarangan. Berlari cepat menuju lift, menunggu dengan cemas di dalamnya, lalu sekali lagi berlari keluar ketika pintu lift terbuka otomatis. Arista menekan bel terburu-buru di depan sebuah unit apartemen yang amat ia kenal. Wajahnya hampir menangis, bayangan-bayangan perpisahan yang diutarakan oleh Satya terasa begitu menyesakkan. Arista sudah kehilangan hampir seluruh orang yang ia sayang dalam hidupnya. Luka akibat perpisahan itu ternyata tak pernah sembuh. Ketika ia kembali dihadapkan pada kemungkinan te