Hari pertama. Altarik melangkah lesu menuju rumah utama, punggungnya menggendong ransel berisi pakaian yang sebelumnya telah Rahee setrika. Oh, Rahee ... baru begini Altarik sudah pengin kembali. Terlebih, ada Sakha dan Alifia yang menambah dia berberat hati. "Kamu sehat, Al?" Terkesiap, Altarik berbalik. Dia berjalan menunduk dan tak tahu kalau ternyata ada Bang Umin yang duduk di ruang tamu. Lantas, Altarik tersenyum kecut. Menggeleng. "Rahee minta pisah, apa kelihatannya aku bisa sehat, Bang?" Umin seruput kopi panasnya. Lalu membaca koran eksklusif sambil berucap, "Mau istirahat dulu, apa mau langsung aja? Kita ngobrol." Karena Demi Tuhan, sebanyak apa pun Umin katakan 'terserah' terkait masalah sang Adik di grup keluarga, faktanya dia tidak bisa sejalan dengan hasil ketikan. Um

