Delapan Puluh Lima

219 Words

*Author Pov* Begitu memasuki gedung olahraga dimana sudah begitu banyak tim sepak takraw dari berbagai macam sekolah yang berkumpul di masing-masing anggota nya. Mungkin karena sekarang adalah babak penyisihan kedua, penonton juga beberapa tim tidak banya yang terlihat. Juna meneguk ludahnya, ia masih tidak menyangka bisa berada di sini. Padahal awalnya ia merasa tidak akan pernah mungkin bisa bermain sepak takraw, tapi lihatlah sekarang? Walaupun muncul buat sebagian orang hal ini hanya lah kecil atau biasa saja, tetapi untuk Juna, ini semua adalah pencapaian yang luar biasa. Dan entah kenapa, Juna jauh merasa lebih bangga dengan sepak takraw ini daripada pencak silatnya. Mungkin karena sejak kecil, Juna sudah terbiasa dengan pencak silat sejak kecil. Bahkan ia berlatih sejak Ju

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD