*Author Pov*
"Semuanya udah siap kan, Jun? gak ada yang ketinggalan?" tanya Mamah saat Juna sedang merapihkan tas khusus yang akan ia bawa untuk pertandingan sore nanti.
"Udah kok, kayaknya sih gak ada yang ketinggalan. Juna juga udah ngerapihin ini dari kemarin malem kok."
"Mamah usahain nanti sore Mamah, Papah juga mbak mu dateng. Yang semangat ya bertanding nya! Mamah selalu dukung kamu."
Juna tersenyum lebar, ia memeluk mamahnya erat.
"Makasih Mah. Terus juga kalian gak perlu maksain diri buat dateng kok, yang penting Juna tahu kalau kalian selalu dukung Juna kapan pun itu." ucapnya sambil melepaskan pelukannya dari sang ibu.
Mamah mengelus bahu Juna lembut. "Mamah selalu bangga sama kamu. Sampaikan juga salam Mamah untuk tim mu ya. Kalian pasti menang, Mamah yakin itu."
"Siap Mah! Ya udah Juna berangkat dulu, kalau telat bisa-bisa Juna gak bisa ikut tandi lagi. Juna berangkat yaa, Assalamu'alaikum."
pamit Juna seraya mencium punggung tangan sang ibu.
"Waalaikumsalam. Hati-hati!"
Juna pun segera melajukan motornya menuju sekolah.
Walaupun ia datang mepet waktu, untung saja pintu gerbang belum di tutup. Padahal selama di perjalanan ia sudah was-was karena akan terlambat. Itu semua terjadi karena tiba-tiba saja ban motor Juna kempes saat di tengah jalan, jadi mau tidak mau Juna harus mencari tambal ban yang tidak jauh dari tempat nya berada. Bukan hanya itu, ia juga hampir saja menabrak kucing kalau saja Juna telat mengerem saat itu.
Sesampainya di sekolah pun kesialan masih mengikuti Juna, karena tiba-tiba tali sepatu Juna putus.
Iya putus, bukan lepas tapi putus. Haikal yang sudah datang lebih dulu sejak tadi, mengerutkan dahi saat melihat Juna datang sambil menggerutu dan menenteng sepatunya.
"Kenapa lo?" tanya Haikal begitu Juna sudah duduk di bangku di samping nya.
"Kayaknya gw kena siap dah."
Juna pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya hari ini.
"Lo udah minta restu belum dari nyokap lo kalau lo bakal ada pertandingan hari ini?"
"Ya udah lah, bahkan emak gw yang paling sibuk nanyain kalau ada barang gw yang ketinggalan apa gak."
"Heem.Kalau begitu paling juga kebetulan aja. Udahlah gak usah di pikiran sampai segitunya. Kalau di pikirin mulu yang ada malah jadi nambah beban pikiran buat lo. Mending sekarang lo fokus sama pertandingan nanti sore."
"Lo bener. Ngomong-ngomong lo gak ikut anak-anak klub basket? bukannya mereka pergi dari pagi ya?"
"Gak, kita kan ada ulangan dulu. Jadi gw minta ijin sama mereka kalau gw nyusul."
"Mau bareng gw?"
Haikal menggeleng kan kepalanya, "Gak usah, gw bawa motor kok. Kalau gw bareng lo, nanti gw kudu ke sekolah lagi pulangnya untuk ngambil motor. Males banget."
Juna hanya mengangkat kedua bahunya.