“Mas.. Tapi kamu juga kalah loh.” Oh, benar juga! Kali ini kalahnya sama orang baru- batin Hanggono. “Maaf Pak.. Antriannya sampai..” Hanggono melirik ucapan satpam yang menegurnya. Laki-laki itu bahkan berani menghampiri pemilik perusahaan hanya demi antrian mobil lain. “Biarkan saja! Mereka kalau mau turun bisa parkirin mobilnya ke parkiran dulu. Kamu nggak lihat saya lagi rapat sama istri saya?!” amuk Hanggono Tirto. Ia bahkan sampai menunjuk isi dalam mobil agar para pekerjanya tahu kalau ada hal lebih penting dari pada antrian mobil belakang. “Sama Han..” kalimat Amel terhenti bersamaan dengan suara klakson. Tin.. Tin... Gemas dengan mobil dibelakang mereka, Amel memilih turun terlebih dahulu. Ia menggulung lengan kemeja seatas mungkin, sampai menyentuh siku. Di samping sa

