Bab 12

1317 Words

Di dalam taksi online yang melaju pelan menembus jalan malam Jakarta, Sinta duduk di kursi belakang dengan tubuh yang masih gemetar. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca jendela. Kota masih hidup, mobil lalu-lalang, beberapa orang tertawa di trotoar—seolah dunia tetap berjalan normal. Namun bagi Sinta, malam itu terasa berbeda. Tangannya perlahan menyentuh lengannya sendiri. Cengkraman Niko tadi masih terasa jelas, seperti bayangan yang belum benar-benar hilang dari kulitnya. Ia tahu, beberapa jam lagi warna kebiruan akan muncul di sana. Punggungnya juga terasa nyeri setiap kali ia bersandar. Benturan dengan lemari tadi meninggalkan rasa ngilu yang menjalar sampai ke tulang. Namun anehnya, semua itu tidak terasa seberapa. Ada bagian lain yang jauh lebih sakit. Hatinya. Sinta m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD