BAB 15. Lahirnya Elara “Ulangi!” Suara pelatih vokal memecah ruangan latihan kecil itu. “Tarik napas dulu, lalu keluarkan dengan sisa udara, bukan tenaga penuh.” Vania menelan saliva. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba lagi. Nada keluar serak, menggantung tetapi stabil. Tepat seperti yang diminta. Pelatih itu mengangguk. “Lebih bagus. Penyanyi klub malam tidak pernah menyanyi dengan teknik penuh. Suaranya harus seperti perempuan yang terlalu sering menangis.” Vania menunduk. “Aku tidak pernah latihan seperti ini.” “Mulai sekarang, kamu harus bisa. Kamu bukan polisi di sini.” Ia diam. Kata itu menusuknya setiap kali diucapkan. Pelatih menatapnya sekilas. “Gadis bernama Elara itu bukan petarung. Dia bukan penembak jitu. Dia juga bukan putri seorang tokoh.” Vania m

