Raka pulang pagi itu diantar Rey dalam keadaan linglung. Ia tak tahu benar apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia merasa ada sesuatu yang buruk yang tak bisa ia pastikan. Ia shock. “Abang,” Citra menyambutnya dengan cemas. Ia sedang membereskan bekas sarapan anak-anaknya. Mereka sudah berangkat ke sekolah beberapa menit lalu dengan diantar sopir. Raka memeluknya erat. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya yang tak bisa ia ceritakan untuk saat ini. Perasaannya kalut. Ada ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. “I love you,” bisiknya lirih di telinga istrinya. Citra mengeratkan pelukannya. Ia khawatir ada sesuatu yang menakutkan terjadi di luar sana semalam. Badan Raka terasa bergetar. Citra mengelus punggung lebar itu. Merapalkan berbaris doa untuk suaminya itu. Tak pernah selama ini ia mend

