Agnes baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah, tetesan air masih turun perlahan melewati lehernya. Ia mengenakan piyama satin berwarna biru muda, duduk di depan meja rias dengan tatapan tertuju pada cermin besar di depannya. Ia menghela napas panjang. “Rasanya hari ini sangat panjang,” gumamnya pelan, mencoba menikmati keheningan setelah hari-hari melelahkan di rumah sakit. Namun, baru saja ia meraih lotion tak jauh dari jangkauannya, terdengar suara kecil dari arah tempat tidur. “Kejutan!” Agnes menoleh spontan, lalu matanya membelalak. Dari balik selimut yang menggembung, muncullah sosok Daniel dengan setangkai mawar merah di mulutnya dan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. “DANIEL!” jerit Agnes sambil melonjak ke belakang, hampir terjatuh ke lantai. Daniel menyingkirkan

