Beberapa hari sudah berlalu, Damian kembali datang, bukan untuk mencari Kaeta, memang sudah menjadi rutinitasnya, setelah melakukan tugas lapangan dia langsung ke Rumah Sakit.
Meskipun keluarga Wesley memiliki Dokter pribadi, tetapi Damian lebih suka mendatangi Dokter Xavier.
Setelah melakukan pemeriksaan, seperti biasanya, Damian tidak langsung pulang, kedua pria berbeda usia itu, saat ini sedang mengobrol santai.
“Apakah ada masalah lain, Tuan Damian?" Tanya Xavier.
Damian menganggukkan kepalanya. “Hmm" Gumamnya sembari memainkan pulpen di atas meja kerja Xavier.
“Perjodohan lagi?" Xavier menebak tepat sasaran, pria itu terkekeh pelan. “Dan Anda kembali menolaknya?" Damian kembali mengangguk.
“Aku tidak tertarik dengan wanita manapun. hanya dia yang masih bertahan di hatiku" Gumam Damian di akhir kalimatnya dengan kedua tangan yang mengepal erat.
Xavier menghentikan pergerakan tangannya, lalu melihat kearah Damian sampai beberapa detik. “Anda harus mencoba membuka hati untuk cinta yang baru, Tuan."
Damian menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa."
“Bukan tidak bisa, tetapi Anda yang tidak memiliki keberanian." Ucap Xavier sembari tersenyum.
Damian menarik sudut bibirnya. “Cih!! apa Anda sudah pernah mencoba untuk membuka hati?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Xavier terdiam.
Mendiang istrinya tidak akan tergantikan oleh siapapun, kisah cintanya sangat manis, tidak mudah bagi orang baru menggantikannya.
“Karena istriku tidak tergantikan oleh siapapun." Jawabnya, Damian terkekeh.
“Begitu juga denganku, Dokter Xavier, kita memiliki nasib yang sama, terjebak pada cinta... "
“Kita berbeda nasib Tuan." Sela Xavier, menatap Damian dalam-dalam tanpa ekspresi. “Kita tidak sama, kisah cinta kita jauh berbeda, cintaku happy ending dan kisah cinta Anda... " Xavier sengaja menggantung kalimatnya, tanpa di jelaskan seharusnya Damian tau.
Damian tidak tersinggung, dia malah terkekeh dan menganggukkan kepalanya. “Anda benar, kisah cinta kita memang berbeda, Anda di tinggal mati, sedangkan aku di tinggal demi karier, mendiang istri Anda meninggalkan kenangan indah dan seorang putri yang cantik."
Keduanya tertawa bersama, Xavier sering kali menceritakan tentang putrinya yang baru bar dan usil, dan Damian juga menceritakan kisah cintanya yang tidak berjalan mulus, entah bagaimana awalnya kedua pria itu bisa saling terbuka dan menjadi lebih dekat.
“Dokter Xavier, aku menginginkan putrimu untuk bertemu dengan Daddy ku."
Pergerakan tangan Xavier langsung terhenti, tatapan matanya yang teduh mendadak memancarkan kilatakan yang tajam. “Apa maksud Anda, Taun Damian?"
Damian menarik nafas dalam-dalam, sebelum dia melanjutkan kalimatnya, dia tau pasti akan membuat Xavier marah. “Aku ingin menggunakan putrimu untuk menghindari perjodohan, sebagai gantinya aku akan menjaganya dan membantunya mewujudkan cita-citanya."
Xavier tidak langsung menjawab, dia menatap Damian cukup lama, di dalam ruangan mendadak hening. “Aku tidak akan mengubah putriku menjadi orang lain dan jangan memanfaatkannya untuk kepentingan Anda, Tuan Damian."
“Jangan salah paham, aku tidak akan menyakitinya, aku hanya... "
“Tidak!" Sela Xavier dengan cepat, putrinya sangat berharga, tidak akan dia biarkan siapapun menyakitinya ataupun memanfaatkannya, termasuk Damian.
Damian terdiam untuk sesaat, ekspresinya sama sekali tidak bisa di tebak. “Aku hanya mengatakan satu kali Dokter Xavier, bukankah putrimu memiliki cita-cita ingin menjadi sepertimu? bagaimana kalau... "
“Anda mengancamku, Tuan Damian?"
Damian mengangguk. “Ini bukan Ancaman, tetapi sebuah kesepakatan dan peringatan."
Xavier mengepalkan kedua tangannya, Damian pria licik yang bisa melakukan apa saja demi keuntungan, bahkan entah misi apa yang sedang pria itu jalankan saat ini sampai harus turun menjadi seorang petugas Damkar.
“Anda tidak perlu khawatir Dokter Xavier, jika Anda menyetujuinya, aku akan meminta Daddy ku untuk mengembalikan hak kepemilikan Rumah Sakit ini pada Anda dan melunasi semua hutang Anda pada perusahaan ku, bagaimana?"
Xavier mengeraskan rahangnya, jika dia menyetujuinya sama saja menjual kebebasan sang putri dan menjatuhkannya kedalam neraka seorang Damian.
“Ti... "
Brakkk
Belum sempat Xavier menyelesaikan kalimatnya, suara pintu terbuka dengan kasar mengalihkan pandangan kedua pria itu.
“Dad.. Aku mau lapor!" Suara Kaeta begitu melengking memenuhi ruangan, sampai Damian meringis.
“Astaga!! Kaeta, apa yang ingin kamu laporkan?" Xavier menghela nafas panjang.
“Dad, ada kebakaran." Ucapnya begitu dramatis, Xavier melirik kearah Damian yang menarik sudut bibirnya ketika melihat Kaeta.
“Di mana?" Sahut Damian, dan suara itu menyadarkan Kaeta jika di ruangan itu bukan hanya ada Ayahnya saja, tetapi juga ada Damian.
Dia langsung tersenyum lebar. "Di sini, Tuan Damian." nunjuk kearah dadanya sendiri.
Baik Damian maupun Xavier, keduanya sama-sama terdiam dan saling bertukar pandang.
“Kae.. "
“Semenjak bertemu denganmu, apinya gak mau padam." Kaeta menyela kalimat Ayahnya, gadis cantik itu cengengesan kearah Damian.
Damian tersnyum tipis. Melirik kearah Xavier penuh dengan arti. “Baiklah, kalau begitu tolong periksa aku terlebih dulu, bukankah harus Anda yang memeriksanya, Dokter Kaeta?"
"Dokter?" Ulang Kaeta, seakan lupa, kapan dia menjadi Dokter.
"Dokter macam apa yang pelupa" Damian menggelengkan kepalanya merasa heran, tetapi sepertinya pilihannya juga tidak salah untuk menjadikan Kaeta sebagai tameng perjodohan yanga Ayahnya siapkan.
“Dokter spesialis gagal move on dari pasien ganteng seperti Anda Tuan Damian." Jawabnya kembali cekikikan.
Xavier menghela nafas panjang, tatapan Damian pada Kaeta membuatnya khawatir, pria berkuasa itu pasti tidak akan melepaskan putrinya begitu saja.
Tetapi banyak hal yang tetap harus dia pertimbangkan, seperti yang Damian katakan, dibawah perlindungannya, Kaeta akan aman dan bisa mengejar cita-citanya tanpa gangguan dari siapapun, termasuk dari keluarga mendiang istrinya.
Xavier menggelengkan kepalanya, dia merasa gagal dan payah menjadi seorang Ayah,dia tidak memiliki kuasa serta dukungan yang kuat untuk melindungi putrinya dan melawan keluarga mendiang sang istri.
Tetap jika menerima tawaran Damian, dia sama saja memasukkan putrinya kedalam neraka, semua yang dia pikirkan tidak menemukan jalan keluar sama sekali.
“Jangan dekat-dekat." Ucap Damian ketika Kaeta begitu dekat dengannya.
“Lah, Kenapa?" Jawabnya sembari menaikan sebelah alisnya.
"Terlalu Dekat, apa yang akan kamu periksa?" Tanya Damian
"Nah kan." Kaeta menjentikkan jarinya
"Apa?"
“Jantung Anda semakin berdetak kencang, berarti aku spesial." Sembari cekikikan. Damian hanya menarik sudut bibirnya dan mata pria itu melirik kearah Xavier, seakan-akan dia mengatakan. ‘Lihatlah putrimu begitu menyukaiku.'
“Kaeta, sudah jangan main-main, Tuan Dam.. "
“Tidak masalah Dokter Xavier, biarkan putri Anda bermain denganku, bukankah dia akan bersama ku?" Sela Damian menunjukkan senyum kemenangan kearah Xavier.
Sementara Kaeta sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Damian dan Ayahnya. “Maksudnya bagaimana ya Tuan Damian?"
Damian menoleh kearah Kaeta. “Dokter Xavier bilang, suatu saat Anda akan menjadi Dokter hebat dan akan menjadi Dokter pribadi ku."
Mata Xavier melebar sempurna, dia tidak pernah menyatakan itu. Sedangkan Kaeta langsung tersenyum senang. “Tentu saja Aku akan menjadi Dokter yang hebat."
Bersambung..