“Kaeta, jangan terlalu dekat dengan Tuan Damian." Ucap Xavier ketika mereka berdua baru saja sampai di rumah.
Kaeta menoleh. “Daddy kayaknya gak suka sama Tuan Damian, kenapa Dad, apa ada masalah?" Tanyanya.
Xavier menggelengkan kepalanya. “Tidak ada masalah yang serius, Daddy cuma mengingatkan, keluarga mereka memiliki kuasa, jangan bermain-main dengannya." Jawab Xavier tidak sepenuhnya berbohong. Dia masih belum berani mengatakan yang sebenarnya pada Kaeta.
Bahkan putri kesayangannya itu tidak pernah tau, jika Rumah Sakit peninggalan Ibunya memiliki banyak hutang pada keluarga Wesley, dan sialnya Damian akan menggunakan itu untuk mendapatkan Kaeta.
Kaeta menaikan sebelah alisnya, keluarga mereka berkuasa? Memangnya kenapa? jika di bandingkan, keluarga mereka sejajar. Sama-sama memiliki kekayaannya yang seimbang.
“Dad, keluarga mereka berkuasa?" Xavier menganggukkan kepalanya. “Lalu kenapa Tuan Damian menjadi petugas damkar? Apa keluarga mereka di ambang kebangkrutan?" Tanya nya dengan memasang wajah begitu polos.
Xavier tersenyum mengacak gemas puncak kepala putrinya. “Keluarga Wesley tidak akan pernah bangkrut, dan alasan kenapa Tuan Damian menjadi petugas damkar, hanya dia yang atau alasannya. Daddy hanya mengingatkanmu jangan terlalu dekat dengannya."
“Tapi Tuan Damian sangat tampan, Dad, idaman banget"
Xavier memegang kedua bahu putrinya. “Kaeta, Tuan Damian bukan orang yang bisa kamu ajak bermain, lebih baik fokuslah pada pendidikan mu."
Kaeta tidak langsung menjawab, jika Ayahnya memberikan larangan, itu artinya, Damian benar-benar berbahaya. “Baiklah!"
Sementara di tempat lain, Damian sedang duduk santai sembari menikmati angin malam dan indahnya bintang yang berkelip.
“Dam, kamu yakin akan menggunakan putri Dokter Xavier untuk mengatasi Ayahmu?"
Damian mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya, dia terdiam untuk beberapa saat, lalu detik kemudian dia mengangguk.
“Hmm" Gumamnya.
“Dokter Xavier tidak akan membiarkan putrinya jatuh di tangan pria berengsek sepertimu." Ucap Jordi yang tidak lain adalah sahabat Damian.
Damian menarik sudut bibirnya, meraih minumnya dan menenggak sampai tandas, lalu dia kembali memetakan gelas itu di atas meja.
“Sepertinya aku perlu mengingatkan mu kembali, siapa aku ini, Jordi." Desisnya, tidak ada hal yang tidak bisa dia dapatkan.
Jordi menggelengkan kepalanya pelan. “Iya, kau tidak perlu mengingatkanku lagi Tuan Muda." Kekehnya di akhir kalimat.
“Gadis itu yang memulai permainan, aku hanya melanjutkan saja." Lanjut Damian, lalu menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Kaeta, membuat Jodri tertawa.
“Hais!!.. Aku benar-benar tidak menyangka Dokter Xavier memiliki putri yang cantik." Mereka hanya pernah mendengar jika Dokter Xavier memiliki seorang putri, tetapi mereka tidak pernah melihatnya, padahal Kaeta sering dibawa ke rumah sakit.
***
Keesokan harinya, setelah mengantarkan Kaeta ke kampus, Dokter Xavier seperti biasa langsung pergi ke Rumah Sakit.
Tetapi paginya yang indah harus berantakan ketika dia melihat seorang perempuan cantik berdiri di depan ruangannya.
“Xavier, akhirnya kamu datang juga." Ucap wanita itu, Xavier hanya diam tanpa menjawab apapun.
Merasa di abaikan membuat wanita itu sedikit kesal dan menghentakkan kakinya. “Xavier.. "
“Ada apa?" Sela Dokter tampan itu.
Wanita itu maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Xavier. “Bagaimana, apa kamu sudah melunasi hutang Rumah Sakit ini?"
Xavier menautkan kedua alisnya. “Apa aku harus memberikan laporan tentang Rumah Sakit ini padamu?"
“Cih.. aku hanya bertanya, kalau kamu tidak becus mengurusnya, kembalikan saja keluarga kami, atau serahkan saja Kaeta pada keluarga Wesley, biar hutang Rumah Sakit ini lunas, jadi anakmu itu bisa berguna!" Ucapnya dengan santai.
“Cukup Vanessa!!" Bentak Xavier, dia menatap tajam mantan adik iparnya itu. “Rumah Sakit ini tidak ada urusannya lagi dengan keluargamu, dan masalah hutang, kau tidak perlu repot-repot memikirkannya, aku akan melunasinya tanpa mengorbankan kebahagiaan putriku." Desisnya, apapun akan dia lakukan tanpa mengorbankan Kaeta.
Vanessa tersenyum meremehkan. “Jangan sombong Xavier, buktinya sudah bertahun-tahun kau hanya mampu membayar bunganya saja, solusi dariku sudah sangat tepat."
Xavier memejamkan matanya menahan emosinya. “Pergilah Vanessa, jangan membuatku mengatakan hal yang akan menyakitimu, dan tolong jangan ikut campur urusanku ataupun menganggu putriku lagi."
“Buang saja kesombonganmu itu Xavier, aku yakin Kaeta tidak akan menolak jika dia... "
“Jangan coba-coba kau memberitahu putriku, atau kau akan menyesal seumur hidupmu, Vanessa." Selanya dengan tatapan yang begitu tajam. Dia tidak pernah takut dengan ancaman apapun dan sialnya mereka selalu menggunakan Kaeta sebagai kelemahannya.
Wanita itu kembali tersenyum. Dia maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Xavier. senyum yang begitu penuh arti, dia mendekatkan wajahnya sampai Xavier bisa merasakan hangatnya nafas wanita itu.
“Biarkan Zeta bersama Tuan Damian, atau kau menikah denganku agar semua rahasia yang selama ini kau simpan tetap aman." Bisiknya membuat mata Xavier membulat sempurna.
“Vanessa!!" Geramnya, wanita mundur satu langkah sembari mengangkat kedua tangannya. Dia tidak takut lagi dengan Xavier, sebab ada seseorang yang memberikan keberanian padanya.
“Kalau kau tidak ingin Kaeta berada di tangan Tuan Damian, lebih baik kau menikah denganku, aku akan menjaga.. "
“Semua itu tidak akan terjadi Vanessa." Selanya, rahangnya mengeras dengan mata yang memarah.
“Tapi sayangnya kau tidak punya pilihan Xavier.. pikirkan baik-baik, aku menunggu jawabanmu, dua hari lagi." Setelah mengatakan hal itu, Vanessa pergi begitu saja meninggalkan Xavier yang masih dalam kekesalan.
Xavier menarik nafas dalam-dalam, sepertinya dugaannya, Damian akan melakukan apapun untuk mendapatkan putrinya, termasuk melibatkan Vanessa.
Melihat Xavier yang seperti tertekan, membuat seseorang yang sejak tadi memperhatikannya tersenyum penuh kemenangan. Pria itu menyandarkan tubuh nya di dinding rumah sakit.
“Jangan tersenyum dulu, Dam, kau belum tau bagaimana power seorang Ayah untuk melindungi putrinya." Ucap Jordi melirik kearah Damian.
“Aku akan menghancurkan power itu." Jawabnya singkat, sebenarnya Jordi penasaran dengan sikap Damian, kenapa harus Kaeta, masih banyak wanita lain yang lebih mudah untuk didapatkan tanpa harus membuang tenaga.
Jordi menggelengkan kepalanya, Damian memang beda dari yang lain, sebagai pewaris tunggal dia rela menjadi petugas damkar hanya untuk menghindari perjodohan saja. Dan sialnya Jordi selalu mengikuti kemanapun Damian pergi termasuk menjadi petugas Damkar.
“Dam, kenapa kamu tidak mencari wanita lain yang.."
“Gadis itu mudah untuk di kendalikan meskipun terkadang sangat berani denganku." Sela Damian
“Kau tidak takut jatuh cinta dengan gadis itu?" Tanya Jordi kembali melirik kearah Damian.
Damian menarik sudut bibirnya. “Apa menurutmu sebuah mainan yang tidak ada harganya pantas untuk mendapatkan tempat yang layak dan cinta ku?"
Jordi tidak langsung menjawab, tanpa Damian menjelaskan dia sudah tau arti dari kalimat itu, Kaeta tidak lebih dari sebuah mainan, tetapi tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan.
“Suatu saat kau yang akan menangis karenanya, Dam."
Bersambung....