Bab 6 JP911

1011 Words
“OUH s**t!! BERANI SEKALI KAU KAETA, DASAR GADIS SIALAN!!" Teriak Mars, pria tampan yang tidak lain adalah paman Kaeta. Kaeta berdiri tegak menatap Mars tanpa ada rasa takut, meskipun dia sadar, apa yang baru saja dia lakukan adalah kesalahan, telah menyiram pamannya dengan segelas air minum. Suasana mendadak hening, wajah Mars memerah dengan urat-urat di lehernya terlihat jelas, pria itu menatap tajam Kaeta. “Apakah begini sikapmu pada orang yang lebih Tua, Kaeta!" Bentak Mars. Beberapa pengunjung lainnya menoleh kearah sumber suara, mereka seakan sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang menegangkan. “Maaf Paman, aku tidak sengaja, itu semua karena Paman yang mulai duluan." Jawab Kaeta dengan nada yang begitu santai. “Berani sekali kau menyalahkan Paman, Kaeta?" desis Mars. “Nggak ada yang nyalahin Paman, tapi Paman yang minta disalahin, aku udah pernah bilang, jangan mengumpat Daddy ku, tapi Paman tetap saja melakukannya." Ujar Kaeta dengan tegas. Tidak ada satu orang pun yang boleh mengumpat Ayah nya. Siapapun itu akan dia lawan, termasuk keluarga dari mendiang Ibunya. “Aku ini pamanmu, Kaeta" ​"Aku tidak peduli. Yang jelas aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang aku buat." ucap Kaeta memberikan senyum paling manis. Dia mengulurkan tangan hendak mengelap pakaian Mars sebagai tanda penyesalan, mau bagaimana dia tetap menunjukkan rasa hormat dan mengakui kesalahannya, meskipun Mars yang memulai terlebih dulu. Tetapi Mars menepis tangannya dengan kasar. “Jangan coba-coba berani menyentuh ku, meskipun kau putri dari adikku, Kaera!" Entah apa alasannya Mars selain membenci Xavier, dia juga sangat membenci Kaera, tetapi dia tidak munafik seperti anggota lainnya, kebenciannya di perlihatkan secara terang-terangan. Kaera menatap lengannya yang tertepis oleh sang Paman, kemudian dia mengalihkan pandangannya pada sang Paman dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan. “Sialan!!" Gumamnya pelan, dia tidak Terima tetapi juga tidak melawan lagi. Mars menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas panjang. Pria itu sangat mengenal bagaimana keponakannya, meskipun membencinya, Mars tidak melewatkan sedikitpun tentang Kaeta. Kaeta tetap pada posisinya, namun dia tetap waspada, pamannya ini bisa melakukan apa saja padanya. seharusnya dia tadi menghindari pria itu, tetapi semua tidak sesuai dengan perhitungannya. Semua mata tertuju pada mereka, Mars masih memberikan tatapan tajam, ekspresinya sangat sulit dibaca. Lalu dia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk sedikit menjauh ketika matanya tidak sengaja menangkap sosok pria berseragam Damkar di paling ujung. Mars sedikit menurunkan pandangannya, dia sangat mengenal jelas siapa pria itu, pria yang beberapa hari lalu menemui Vanessa. “Duduk, kita harus bicara." Ujar Mars pada Kaeta dengan nada yang terdengar sangat datar. Kaeta langsung duduk, sudah cukup lama berdiri membuat kakinya terasa pegal. “Kau harus bertanggungjawab, Kae" Ujar Mars lagi, suaranya mulai merendah. Kaeta menghela nafas berat. “Paman, sudah aku katakan dari tadi, kalau aku bakalan tanggung jawab atau mengganti kerugian Paman hari ini. Paman aja yang membesarkan masalah." Mars tersenyum tipis, ada rasa kagum pada pada keponakannya, tetapi rasa bencinya lebih besar. “Baiklah, Paman lihat kau cukup berani, jadi bisakah kau melawan seorang Damian ketika dia memintamu untuk menjadi kekasihnya?" Suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapapun. Mendengar nama Damian, mata Kaeta langsung melebar sempurna dengan mulut yang menganga saking terkejutnya. “Kekasih?" Gumamnya. Dia seperti tidak percaya mendengar kalimat itu, sangat mustahil, dia baru bertemu beberapa kali, masa langsung jadi kekasih. “Paman serius?" Mars mengangguk. “Lalu kenapa aku harus menolak pria tampan sepertinya, aku ini sudah menjadi Dokter pribadinya" Ekspresinya begitu berbinar. Sementara Mars hanya menatapnya datar, entah apa yang pria itu pikirkan. “Karena dia tidak baik untukmu." Kaeta menautkan kedua alisnya. “Paman juga tidak baik, sering membentakku, bahkan hampir menamparku, masih baik Tuan Damian, meskipun wajahnya kaku, tapi gak pernah marah-marah." Mars memejamkan matanya. “Kaeta... " “Sudahlah Paman, Daddy bilang, jangan terlalu dekat, karena Paman itu seperti ular yang kapan saja bisa menggigit ku." Mata Mars langsung melebar dengan kedua tangan yang mengepal erat. Bisa-bisanya Xavier mengatakan hal seperti itu. Setelah mengatakan itu, Kaeta langsung pergi begitu saja tanpa menoleh dan tanpa menyadari adanya Damian di restoran tersebut. Mars menatap punggung Kaeta yang semakin menjauh, dia menghela nafas panjang. Sampai tidak menyadari jika Damian sudah berada di hadapannya. “Luas tanah 150 hektar, Rumah Sakit milik mendiang Nyonya Valere yang sedang menjadi rebutan keluarga Anda, akan saya berikan pada Anda secara cuma-cuma, asalkan Anda bisa membuat Dokter Xavier menyerahkan putrinya pada saya" Mars menoleh, dia tidak langsung menjawab, mendengar tawaran yang sangat menggiurkan itu, Tanah 150 hektar sangat luar dan Rumah Sakit yang sedang menjadi rebutan itu tidak mudah didapatkan, tetapi Damian bisa memberikannya secara cuma-cuma. Mars menarik sudut bibirnya. “Saya kira Tuan Damian bisa mengendalikan semuanya tanpa bantuan siapapun, seperti rumor yang beredar, tetapi hanya untuk mendapatkan seorang gadis kecil masih membutuhkan bantuan orang lain." Ucapnya menggeleng pelan. Damian tersenyum tipis, dia bisa mendapatkan Kaeta dengan mudah ataupun memaksa gadis itu, terlebih Kaeta sudah sangat menyukai nya,tetapi dia tidak ingin memiliki citra yang buruk di mata Kaeta, sehingga apa yang direncanakan bisa berjalan sesuai keinginannya. “Saya hanya menawarkan kerjasama." Mars menggelengkan kepalanya, dia bukan orang bodoh yang mudah tergiur seperti Vannesa. Damian tidak akan memberikan semuanya dengan gratis dan Mars tidak ingin kehilangan apapun yang sudah dia punya. “Saya tidak tertarik Tuan Damian." Mars bangkit dari duduknya, lalu merapihkan jasnya, setelah itu barulah dia pergi meninggalkan Damian yang memberikan tatapan sulit untuk di artikan. “Kenapa kamu suka sekali merumitkan situasi, Dam, padahal Kaeta mudah kamu dapatkan tanpa melibatkan siapapun." Ucap Jordi merangkul pundak Damian. Damian melirik sekilas. “Dokter Xavier bukan orang bodoh seperti mereka." “Tetapi melibatkan banyak orang itu sangat merepotkan, Dam" ujar Jordi “Hmm, tapi untuk hasil maksimal, terkadang kita memang harus melibatkan banyak pihak, mereka sangat membenci Dokter Xavier, cukup dengan sedikit percikan api saja, semua akan berjalan mulus." Damian menyeringai. Jordi menggeleng pelan. “Kau akan menjadi pahlawan sekaligus musuh dalam selimut?" Damian menarik sudut bibirnya. dia tidak bisa disebut pahlawan, karena Dokter Xavier sudah mengetahui niatnya. “Anggap saja seperti itu, setelah semua selesai, aku akan memberikan kompensasi untuk gadis itu." “Malang sekali gadis secantik dia harus menjadi perisai untuk pria kejam sepertimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD