“Huh?” Wanita itu terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca ketika Ares mengusap pipinya pelan. Sangat lembut, penuh perasaan, tiada celah bagi Mawa mencari kekurangan pria itu. Caranya menatap, menyentuh, bahkan berbicara pun tidak pernah gagal membuat Mawa salah tingkah. Untuk sesaat ia merasa menjadi perempuan paling beruntung sedunia. Mendapat cinta tulus tanpa syarat dan imbalan, benar-benar dibuat terbang melayang hingga ke langit paling indah di atas sana. Tak lupa mengucap syukur, Ares menjadi pengganti cinta lama yang pernah membuatnya menderita dalam duka. “Sekarang, ya?” tanya Mawa menahan senyumnya. Ares manggut-manggut cepat, lalu berbaring di sebelah istrinya. “Kalau tidak mau sekarang juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu kalau belum siap. Santai saja,” balas Ares

