“Ayna ke mana ya, Bi, jam segini belum pulang juga? Apa sejauh itu sekolahannya Alaska? Ini juga Rania kayaknya ngantuk, tapi aku tidurin ngga merem-merem.” Belum resmi mempunyai anak, belum juga ada satu hari, tetapi Agatha sudah dibuat kelimpungan menghadapi Rania. Bukan tanpa alasan, itu semua karena Rania sedikit rewel. Ani yang baru saja masuk ke dalam kamar mendekati Rania yang sedang rebahan di atas kasur. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala anak majikannya. “Biasanya ngga lama kok, Mbak. Apalagi hari ini mbak Ayna ngga ke kantor mas Varrel, harusnya lebih cepat sampai rumah. kalau soal non Rania, dia memang agak susah buat tidur kalau ngga ada mbak Ayna. Makanya susah buat lepas.” Pantas saja susah untuk ditaklukkan. Pandangan Agatha kembali tertuju kepada Rania. Gadis kecil

