Rahasia ke Sekian

1121 Words
San membuka dan menutup pintu rumah Clara dengan sedikit kasar. Clara terkejut dengan reaksi San. Laki-laki itu, untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, berani mendorongnya, memegang kedua bahu Clara. Menatap gadis itu dalam-dalam. "Di luar, ada yang mengikuti kita. Aku baru menyadarinya. Mungkin sejak pulang dari kantor, atau bahkan sejak aku menghampirimu di tempat menunggu bus. Atau sejak pagi tadi. Aku sungguh baru sadar. Jadi, jangan katakan apa pun soal apa yang kamu lihat atau selembar kertas itu, jangan. Buang kalau perlu. Jangan diungkit di mana pun. Aku mohon. Biar aku yang urus. Jangan terlibat apa pun. Aku tidak mau kamu terluka." Tatapan San tidak pernah sedalam itu. Nada bicaranya tidak pernah selirih itu. Clara tersentuh. Jantungku seakan berhenti untuk beberapa saat. Napasnya tertahan. Ia tahu, San tidak sedang bermain-main. Ia sedang sangat serius. "Baik. Aku akan ikuti saranmu." Sebuah kalimat yang Clara katakan tanpa pikir panjang. Sebab apa? Ia tak tega, tak sanggup melihat San terlihat cemas seperti itu. "Benar. Harusnya begitu. Sudah seharusnya. Aku akan pulang sekarang." Langkah San terlihat berat. Clara kembali bersuara. Ia ingin memastikan satu hal. "Kamu baik-baik saja?" "Tidak. Aku buruk. Aku sedang buruk-buruk saja. Jadi dengarkan apa yang kukatakan tadi. Menurutlah. Sudah kukatakan, aku tidak mau kamu terluka." Clara terdiam. Sakit rasanya melihat San sangat cemas seperti itu. "Tapi, aku juga tidak mau kamu terluka." "Aku bisa mengatasinya. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan cemas. Sekarang, yang paling penting itu, kamu. Kamu yang harus waspada, hati-hati, dan jangan melakukan segala sesuatu dengan ceroboh. Pikirkan baik-baik." "Ya, tapi aku juga tidak bisa kalau hanya bersikap biasa saja. Aku juga takut kamu terlibat kesulitan atau apa pun itu. Aku juga tidak bisa kalau harus biasa saja." San tak lagi menanggapi. Lebih tepatnya, ia merasa tak punya waktu. Ia harus menemui Romi dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Lelaki itu keluar dari rumah Clara. Langkahnya masih terasa berat dan tepat ketika matanya bertemu dengan si mata-mata, si mata-mata itu terdiam beberapa saat untuk kemudian pergi menjauh. San segera menelepon Romi. "Aku pikir, keadaannya semakin buruk. Jemput aku." *** "Seburuk apa?" tanya Romi. Ia penasaran seburuk apa keadaan yang sedang mereka hadapi. Mobil melaju dengan cukup cepat. San sudah sangat pusing. Ingin istirahat dan tidur saja. Ia juga merasa sedikit demam. "Sangat buruk. Sepertinya." "Apa kekasihmu dalam bahaya? Atau kita yang dalam bahaya?" Romi melemparkan dua pertanyaan untuk sedikit menganalisis keadaan. "Dua-duanya." "Ya ampun. Ah, cinta, cinta, cinta. Sejak awal, seharusnya kamu tidak jatuh cinta kepada perempuan itu. Bukankah model lebih baik? Siapa itu? Nama model yang pernah digosipkan dekat denganmu? Binar? Namanya saja cantik sekali. Apalagi orangnya. Seluruh negeri memujinya." "Tidak nyambung. Jangan membuatku semakin pusing. Kepalaku sudah sakit." "Maksudku, kalau kamu tidak berhubungan dengan sesama penulis, pasti tidak akan serumit sekarang. Iya, kan?" "Entahlah. Aku tidak tahu." San hanya ingin cepat-cepat pulang. Setidaknya, ia harus meminum obat sakit kepala dulu sebelum kembali memikirkan semua hal yang membuatnya jadi sangat merasa tertekan. "Clif tidak aman," ucap San. "Dia punya rahasia? Apa akan seperti Pak Edo itu?" "Ya, Clara tahu soal korupsi Kristo Wijaya." "Ya ampun." "Lalu, kenapa kita juga tidak akan?" "Aku jalan ke rumahnya, berdua tadi. Saat Clara bicara soal hal itu, aku mendorongnya masuk ke dalam rumah. Tepat saat aku sadar kalau ada yang sedang memata-matai." "Habis sudah kita." Kalimat Romi adalah kenyataan yang paling ingin mereka hindari. Kedapatan melindungi orang yang mengetahui rahasia besar Kristo Wijaya, tentu tak main-main hukumannya. Bisa-bisa, biasanya mereka yang membantu menyingkirkan orang-orang yang diduga mengganggu citra Kristo Wijaya, malah mungkin yang akan disingkirkan juga. Entah dengan cara seburuk apa. Sesampainya di rumah San, laki-laki itu tampak terkejut. Ada seseorang yang sudah lebih dulu sampai di rumahnya. Ayahnya. San menyuruh Romi untuk tetap di dalam mobil. Untuk tidak masuk bersamanya. "Apa, kali ini kau akan aman-aman saja?" tanya Romi sedikit cemas. "Aku tidak tahu. Yang pasti, aku tidak akan mati. Jadi, tenang saja." Sebenarnya, San tidak begitu yakin dengan kalimatnya sendiri. San berjalan dengan tenang, lebih tepatnya berusaha tenang. Berjalan, menahan pening di kepalanya sebisa mungkin, untuk kemudian menghadapi ayahnya yang sedang berdiri menatap ke luar jendela. "Sudah pulang. Ayah menunggu lama tadi. Seharusnya, setelah dari kantor, kau langsung ke sini." "Maaf. Aku ada beberapa urusan." "Urusan apa? Urusan melindungi seseorang yang bukan siapa-siapa?" Cepat sekali mata-mata itu bekerja. "Dia seseorang yang dekat denganku. Bukan seseorang yang bukan siapa-siapa." Ayahnya tertawa mendengar penyangkalan San. "Ayah pikir, Romi akan selalu mengingatkanmu tentang ini. Ayah pikir, keputusanmu untuk mempekerjakan Romi kembali, adalah hal yang benar. Tapi, apa? Apa yang sudah dia lakukan selama ini? Dia tidak pernah memperingatkanmu soal hubungan cinta yang akan membuatmu hancur?" "Jangan bawa dia. Dia selalu melakukan itu setiap saat. Dia selalu memperingatkanku. Dalam hal ini, aku yang salah." "Tidak, San. Aku yang salah, itu adalah kalimat paling pantang untuk diucapkan keluarga seperti kita. Perempuan itu yang salah." Kalimat terakhir ayahnya, membuat San semakin kesulitan menahan diri untuk tidak jatuh. Kepalanya benar-benar sangat pusing. "Jangan terlibat cinta yang seperti itu. Segera putuskan. Sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesalinya. Ayah berusaha melindungimu. Tapi, kamu tidak bisa melindunginya lagi. Lepaskan. Maka, dia akan baik-baik saja." San tak menjawab. "Bagaimana kalau aku tidak bisa melepaskannya? Akan kupastikan dia tidak akan bertindak lebih jauh lagi. Akan kupastikan semuanya tetap berjalan normal, seolah tidak ada yang terjadi. Itu tugasku dan aku akan berusaha sebaik mungkin." Ayahnya menatap San tajam. "Jangan kamu pikir, Ayah tidak tahu soal Tora. Mantan temanmu yang busuk itu. Bagaimana mungkin kamu masih memberinya sebuah keringanan. Seharusnya dia lenyap tanpa jejak. Bukan masih bebas berkeliaran di Amerika." San tidak menyangka bahwa ayahnya akan tahu soal itu juga. Padahal, ia merasa sudah bertindak sangat hati-hati. "Ayah, dia sahabatku. Dan sampai kuputuskan untuk mengirimnya ke luar negeri, aku masih merasa dia adalah seseorang yang sebenarnya tidak memiliki niat buruk. Dia hanya korban. Ayah tahu persis soal itu." "Haha. Korban apa? Dia hanya tidak berusaha sekeras dirimu berusaha. Dia hanya tidak melakukan yang seharusnya dia lakukan. Dan karena itulah, dia layak disingkirkan. Dasar tidak tahu diri. Padahal, dia sudah diterima bekerja di perusahaan Kristo Wijaya, tapi tetap saja berkhianat." Kita yang sebenarnya sudah berkhianat. Aku penjahat yang sesungguhnya. San menunduk. Tak mampu mengangkat kepalanya untuk menantang sang ayah. "Putuskan saja secepatnya. Kalau tidak, kamu tahu sendiri kenyataan buruk apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah. Itu saja. Ayah banyak urusan. Banyak yang harus dikerjakan. Pergilah istirahat. Kamu sepertinya sedang tidak sehat." Perlahan, ayahnya pergi meninggalkan San tanpa mendengarkan lagi apa yang sangat ingin sampaikan. San ingin sekali meneriakkan kata-kata makian terhadap ayahnya. Kalau mampu, ia juga ingin menghajarnya habis-habisan. Namun, selalu ada yang dapat menahan luapan amarahnya itu. Romi masuk setelah ayahnya San keluar. Pandangan San sudah tidak jelas. Ia kehilangan keseimbangan untuk kemudian terjatuh, tidak sadarkan diri. Semuanya terlalu sulit bagi laki-laki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD