78 - Pamit

1605 Words

Satu minggu telah berlalu sejak Kanaya mengizinkanku untuk menjenguknya setiap saat. Dan sejak saat itu, aku benar-benar memanfaatkan waktu yang aku punya untuk mengunjunginya. Aku datang hampir setiap hari saat pulang kerja, meski ia masih lebih sering mengacuhkanku dan bersikap dingin padaku. Aku seperti pria bodoh yang sedang mengemis cinta pada gadis yang jelas-jelas sudah menolaknya sekarang. Tapi aku tidak peduli, selagi aku bisa mendapatkan Lucy ku kembali. Besok siang aku akan berangkat ke Auckland, Selandia Baru. Menurut perkiraanku, aku akan ada di sana selama sekitar dua minggu. Bisa juga lebih karena aku juga masih harus memantau proyekku di sana. Dan sore ini, aku sengaja menyuruh orang untuk mencarikan buket bunga untuk Lucy. “Bos, ini bunga pesanan Anda,” ucap orang suruhan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD