5. Ingin main-main?!

1018 Words
"Kau ingin main-main, denganku rupanya?!" Suara itu meninggi, tapi Kiara tetap teguh pada pendiriannya. Ia menatap tajam tanpa takut, dan mencoba untuk tenang meski tengah merasa terancam dan di imintidasi penuh! "Aku tidak main-main, dan kamu sudah mendapatkan sesuatu berharga dariku – Daddy, apa salahnya bila aku menanyakan alasannya padamu!" tekan Kiara. Keberanian Kiara membuat sensasi berbeda dalam diri Arthur, tapi ia tidak perduli dan mulai menarik paksa gadis itu. "Tuntaskan suatu hal yang sudah kamu usik ini, dan itu adalah tugasmu!" tekan Arthur sembari menarik pergelangan tangan Kiara menuju salah satu kamar yang ada di dalam apartemen itu. Tanpa menunggu waktu lama, Kiara benar-benar menanggalkan semuanya. Seakan ia tidak punya waktu untuk melawan dan menolah, tapi – ia tidak tinggal diam begitu saja! Ia berusaha menahan Arthur bertindak lebih, padahal Arthur sudah menindih dan mengunci Kiara dalam kuasanya. "Wanita Brengs*k! Kau masih saja menolak?!" tekannya sembari menatap Kiara dengan tatapan tajam. "Tidak, Daddy. Hanya katakan saja padaku, setelahnya aku akan menyelesaikan tugasku. Aku janji akan patuh padamu, dan menuruti segala keinginan kamu, kapanpun, di manapun." mohon Kiara. Melihat tatapan memohon dan pasrah itu, ada suatu hal yang terasa menghangat di hati Arthur. "Baiklah, aku akan mengatakannya, namun kamu harus mendengarkannya sembari aku melakukannya denganmu." ujarnya sembari memegang kedua tangan Kiara. "Aagh! Daddy, pe–pelan sedikit!" gumam Kiara. Arthur sungguh sangat menggebu, dan ia sama sekali tidak mendengarkan setiap perkataan yang di ucapkan oleh Kiara yang benar-benar ia kuasai sepenuhnya. "Aku ingin balas dendam pada anak dan istriku! Mereka selalu menghinaku, dan berkata aku tidak perkasa! Padahal wanita itu yang tidak sanggup melayani aku. Denganmu aku puas, dan denganmu aku bisa membalas! Satu panah, dua sasaran! Kau sudah paham gadis kecil? Sekarang, kau sudah dengar, dan aku tidak akan mengulangi perkataan ku dua kali!" ujar Arthur. "Oh! Daddy!" gumam Kiara sembari mencoba memejamkan matanya dan menikmati setiap hal yang diberikan oleh Arthur. Sentuhannya, dan semuanya – terasa membawanya ke surga dunia yang membuatnya hampir lupa kalau apa yang ia lakukan adalah sebuah dosa! Pagi buta itu mereka awali dengan bercinta sampai menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Sama sekali tidak merasa lelah, dan mereka menikmatinya tanpa adanya penyesalan yang begitu berarti. *** Sementara itu di tempat lain... Jam dinding sudah menunjukan Pukul Delapan Pagi. Seorang wanita tampak menatap ke arah meja makan sembari mendengus kesal. Ia hanya sendirian, dan tidak ada anak, maupun suami di sana. Tapi beberapa saat, suara langkah kaki mulai terdengar. Lilia Risa, wanita berusia 48 tahun itu menatap ke arah sumber suara dan melihat putranya Ronald Reagan, berusia 27 tahun menuju ke arah meja makan. "Pagi, Mah." sapa Ronald. "Pagi, Sayang. Apa kamu lihat ayah kamu?" Pertanyaan Wanita itu membuat Ronald yang baru saja duduk di kursi itu tampak menoleh ke arahnya. "Aku melihatnya, tapi kemarin– bukan pagi ini." ujar Ronald. Lilia menatap ke arah putranya, dan berusaha memahami segala hal yang ia ucapkan pada saat itu. Meskipun demikian, dalam ucapan sesederhana itu, ia sama sekali tidak mengerti dan akhirnya mempertanyakan. "Apa maksudmu? Di mana kamu melihatnya?!" tanya Lilia. "Aku tidak yakin itu dirinya, tapi aku rasa itu dia. Aku melihatnya di sebuah club, dan seperti biasa, dia membawa seorang wanita." ujar Ronald. Lilia tampak tidak terkejut sama sekali, ia malah mendengus pelan sembari menghela nafas. "Mau cari wanita seperti apa dia? Memangnya ada wanita yang menurut dia pas? Bersamaku saja dia tidak bisa." Ucapan Lilia terdengar kesal, dan putranya tidak perduli. Tapi tidak beberapa lama suara langkah kaki kembali terdengar. Lilia dan Ronald menatap ke arah sumber suara, dan mereka melihat Arthur datang. Tapi ada yang tampak berbeda dari pria itu. Pria itu tampak tersenyum tipis, dan hal itu membuat istri dan anaknya bingung. Ronald berusaha menelisik setiap sisi dalam diri ayahnya yang berbeda. Hingga ia menatap suatu hal yang mencurigakan di sekitar tubuh ayahnya. "Wah, kamu dapat wanita, Ayah? Wanita mana yang mau dengan pria loyo?" tanya Ronald, suaranya bahkan seperti mengejek Arthur. Arthur tidak menghentikan langkah, ia melirik sejenak lalu menyunggingkan senyuman miring. "Bukan urusanmu, dan kalian berdua akan aku pastikan akan menyesal dengan segala hal yang kalian lakukan!" tekan pria itu sembari melenggang pergi. Apa yang dikatakan oleh pria itu tentu meninggalkan pertanyaan begitu besar pada Lilia dan Ronald, dan bekas merah yang begitu banyak ditinggalkan di leher Arthur membuat mereka paham apa yang telah di lakukan pria itu. Selain bercinta, apa lagi yang bisa membuat bekas sebanyak itu. Dan bila di pikir-pikir, kalau bekasnya sebanyak itu, maka permainan sepanas apa yang terjadi antara Arthur dan wanitanya. Ronald langsung teringat siapa yang ia lihat kemarin malam bersama ayahnya, dan ia akhirnya segera bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari sana. "Ronald?! Mau kemana kamu?!" tanya Lilia, tapi Ronald tidak menjawab, jangankan menjawab, mendengarkan saja tidak! Pria itu segera keluar dari ruang makan, dan ia juga tampak merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih yang ada di sana. *** Sementara itu di waktu yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda... Seorang wanita tertidur lelap dalam sebuah ranjang berukuran king size. Sprei berantakan, baju tampak berserakan di lantai. Dering ponsel berbunyi berkali-kali, dengan malas Kiara meraih ponselnya dan tampak mengangkat telepon itu bahkan tanpa melihat siapa yang menelponnya. "Hallo," gumam Kiara dengan suara serak. "Kiara, aku ingin bertemu denganmu, sekarang juga! Kalau kamu menolak, aku akan melacak keberadaan kamu dan mendatangimu secara langsung." ucap seseorang yang ada di dalam sambungan telepon. Sontak saja, Kiara langsung terkesiap dan bahkan terperanjat kaget. Matanya yang masih mengantuk dan terpejam akhirnya terbelalak lebar. "Mau apa lagi kamu, Ronald?! Bukankah kamu bilang semua sudah berakhir?! Untuk apa lagi kamu memaksaku untuk datang dan menemuimu?!" tekan Kiara dengan suara bergetar penuh amarah. "Aku bilang temui aku! Aku akan menunggumu di cafe biasa aku minum. Kalau kamu tidak datang, maka aku yang akan datang!" Telepon terputus, dan meninggalkan kebingungan pada diri Klara. Ia paham bagaimana sikap Ronald, dan kalau ia tidak datang– Ronald bisa saja benar-benar datang, dan tempat dia tinggal sekarang akan terlacak! "Sepertinya aku harus mengurus masalah ini." gumam Kiara. Lantas, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apa ia sudah ketahuan, dan apa yang akan Ronald katakan sehingga ia sampai meminta Kiara datang? Semua masih menjadi misteri...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD