BAB 16

1444 Words

Mandala mencengkeram krah leher Pamungkas semakin kuat, hingga wajahnya memerah dan mata melotot tajam. Urat di lengan Mandala menegang, siap meledak kapan saja. Sekar menjerit lirih, tubuhnya bergetar di sudut ruangan, menyaksikan dua lelaki itu terperangkap dalam pusaran amarah yang kian mencekam. “Tolong, jangan bertengkar,” ucapnya dengan kalut.” Mandala meliriknya. “Lo diam, Sekar. Minggir sana!” “Hah, kenapa kamu membelanya? Naksir kamu sama bekas bapakmu sendiri?” Pamungkas berucap dengan napas tersengah. Gengaman Mandala di lehernya sangat erat, membuat sakit dan napas tersengal tapi, ia menolak untuk menyerah. Ini adalah rumahnya, ia biasa berkuasa di sini dan tidak akan membiarkan orang menindasnya, terlebih cecunguk seperti Mandala. Mandala melontarkan Pamungkas ke tanah dan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD