“Bagaimana dengan pelayananku, Sayang? Kamu puas?” Atmala membalikkan tubuhnya perlahan, seolah takut memecah keheningan yang menggantung di kamar itu. Pandangannya jatuh pada sosok kekasihnya yang duduk di pinggir ranjang, sebatang rokok menyala di antara jemari. Asap tipis melayang, menari di udara, membentuk tirai samar yang menambah syahdu suasana. Senyum lembut tersungging di bibir Atmala, lalu jemarinya merayap menyentuh lengan kekar pemuda itu—kulit yang masih hangat, berdenyut, menyimpan sisa gairah yang baru saja mereka tumpahkan. Keduanya terdiam, tidak perlu kata-kata untuk mengisi ruang yang kini hanya diisi aroma tembakau bercampur jejak tubuh mereka. Baru saja mereka melewati dua putaran cinta yang menguras tenaga, namun juga mengikat jiwa lebih erat. Atmala merasakan tubuh

