BAB 14

1780 Words

Sekar menatap langit, dan benar hujan sudah mulai reda. Ia mengikuti Mandala yang berlari ke arah motor dan naik ke belakang pemuda itu dengan agak susah payah. Selama perjalanan pulang, keduanya berdiam diri. Sekar merasa, ada perkataannya yang menyinggung Mandala dan ia tidak tahu itu yang mana. “Eh, turunkan aku di belokan sana,” ucap Sekar. “Kenapa? Lagi hujan!” “Eh, itu. Ndak enak kalau—,” “Kelihatan bareng gue? Napa? Malu sama sampah!” Motor berhenti di belokan, Sekar meloncat turun. Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, Mandala melesat meninggalkannya. Sekar dibuat mengurut d**a saat melihatnya. Padahal, sebelumnya saat Mandala memboncengnya dari sawah, ia juga minta turun di sini. Namun, tidak ada kata-kata ketus terucap. Entah kenapa, hari ini pemuda itu sensitif sekali.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD