Setelah mengunyah satu piring apem, Mandala pamit pulang. Ia berkata pada Garsih, awalnya mau cari bengkel motor, ternyata banyak yang tutup karena hujan. Itulah yang membuatnya tersesat hingga sampai ke rumah Garsih. “Ndak apa-apa, Den Mas. Sering-sering datang, saya suka kok.” Garsih berucap gembira. Meski begitu, Mandala tidak berani menjanjikan untuk datang lagi. Terlebih saat melihat wajah Sekar dengan mata menatapnya tajam. Ekpresi muka gadis itu seakan mengancamnya untuk tidak datang lagi. Ia merasa sedang ditatap tajam oleh seekor kucing betina yang sedang marah. Perumpamaan yang buruk, pikirnya geli. “Okee, makasih Mbok.” Mandala beranjak dari kursinya dan melangkah ke pintu. Garsih mengiringi langkahnya menuju motor. Tarno menyongsong mereka dan mengatakan dengan terbata-bata

